Tegangan Industri Jepang: Mesin 200 V 3 Fasa & 50/60 Hz

Name plate mesin dari Jepang bertuliskan "3φ AC 200 V 50/60 Hz." Pabrik Anda di Indonesia umumnya dialiri 3 fasa 380 V (220 V fasa–netral), 50 Hz dari jaringan PLN, yang di banyak dokumen internasional ditulis sebagai 400 V. Sebelum mesin disambungkan, ada tiga pertanyaan yang harus terjawab: apakah mesin butuh trafo, apakah motornya bekerja sama baiknya pada frekuensi Anda, dan tegangan internal mana (200 V, 100 V, 24 V DC) yang benar-benar menjadi urusan Anda.
Jawaban singkatnya: pabrik di Jepang umumnya menjalankan motor dengan 3 fasa 200 V (beban besar dengan kelas 400 V), penerangan dan peralatan kecil dengan 1 fasa 100 V, dan kontrol dengan 24 V DC. Jaringan listrik Jepang bekerja pada 50 Hz di Jepang timur dan 60 Hz di Jepang barat. Mesin yang dibuat untuk 200 V biasanya butuh trafo step-down, atau versi tegangan lain dari pemasok, sebelum bisa dipakai pada suplai pabrik 380 V. Frekuensi adalah pengecekan terpisah, karena memengaruhi kecepatan motor dan beban motor serta koil AC.
Panduan ini menjelaskan tegangan Jepang yang akan Anda lihat di gambar dan name plate, membandingkannya dengan suplai pabrik yang umum di Indonesia dan negara lain, menunjukkan mengapa motor yang sama menarik arus setengahnya pada 400 V, lalu ditutup dengan checklist dan contoh email siap kirim ke pemasok Jepang. Isinya daftar hal yang perlu dikonfirmasi, bukan prosedur pemasangan.
Daftar isi
- Tegangan di Dalam Pabrik Jepang
- Jepang vs Pabrik Anda: Tegangan dan Frekuensi Suplai yang Umum
- Mengapa Tegangan Mengubah Arus dan Rugi Kabel
- Apa yang Berubah pada 50 Hz vs 60 Hz
- Apakah Anda Butuh Trafo?
- Cek Rangkaian 24 V DC di Ujung Beban
- Checklist Sebelum Memesan atau Menyambung
- Pertanyaan untuk Pemasok Jepang
- Batas Panduan Ini
- FAQ
- Sumber
Tegangan di Dalam Pabrik Jepang
Pabrik di Jepang tidak menjalankan semuanya dengan satu tegangan. Suplai dipilih menurut beban dan standar desain pabrik masing-masing. Pompa dan fan besar adalah kandidat untuk suplai 3 fasa kelas 400 V, sedangkan beban motor umum juga memakai 3 fasa 200 V. Penerangan, stop kontak, dan peralatan kecil memakai 1 fasa 100 V, sementara sensor, I/O PLC, dan relai biasanya memakai 24 V DC.
"Kelas 400 V" bukan satu angka. Peralatan di kelas ini bisa berating 400 V, 415 V, atau 440 V, jadi dua perangkat yang sama-sama disebut "400 V" belum tentu bisa saling menggantikan. Satu mesin juga bisa memakai beberapa tegangan sekaligus: motorized valve, misalnya, bisa memakai 200 V untuk motornya tetapi tegangan lain untuk sinyal perintah buka/tutup dan sinyal status.
Gambar 1: Daya dan Kontrol Memakai Suplai Terpisah
Satu susunan yang umum di pabrik Jepang. Hanya diagram peran: terminal dan perangkat proteksi tidak digambar, dan ini bukan diagram pengawatan.
Sebagian power supply bisa langsung menerima AC 200 V (atau yang setara), sehingga jalur dua tahap ini tidak selalu diperlukan.
Suplai 24 V DC bukan sekadar trafo yang lebih kecil. Elektronik seperti PLC dan komputer bekerja pada tegangan DC rendah yang stabil, sehingga selain penurunan tegangan AC, dibutuhkan penyearahan dan regulasi.
Bagi pabrik di Indonesia, pembagian ini penting. Rangkaian kontrol 24 V DC biasanya dibuat oleh power supply di dalam panel mesin, sehingga hanya rating input unit itu yang harus cocok dengan jaringan Anda. Suplai motor 3 fasa dan semua beban yang diwiring ke 1 fasa 100 V bergantung langsung pada jaringan. Tegangan 100 V Jepang tidak lazim di tempat lain: jaringan 1 fasa PLN adalah 220 V, jadi setiap beban 100 V di dalam mesin harus diidentifikasi satu per satu.
50 Hz di Timur, 60 Hz di Barat
Jaringan listrik Jepang terbagi dua. Jepang timur, termasuk Tokyo, memakai 50 Hz, dan Jepang barat, termasuk Osaka, memakai 60 Hz. Batasnya kira-kira membentang dari Sungai Fuji di Prefektur Shizuoka sampai Itoigawa di Prefektur Niigata, dan bukan garis lurus. Pembagian ini berasal dari tahun 1890-an, ketika Tokyo memasang generator 50 Hz buatan Jerman dan Osaka memasang generator 60 Hz buatan Amerika.
Karena itu name plate dan spesifikasi Jepang begitu sering mencantumkan kedua frekuensi. Pemasok di Nagoya atau Osaka mungkin menguji mesin pada 60 Hz, sedangkan pemasok di dekat Tokyo menguji pada 50 Hz. Jaringan PLN adalah 50 Hz, jadi mesin yang diuji pada 50 Hz paling dekat dengan kondisi Anda. Jangan berasumsi "buatan Jepang" memberi tahu frekuensi setup dan pengujiannya. Tanyakan.
Gambar 2: Dua Frekuensi Jaringan Jepang
Di dekat batas, frekuensi bisa berbeda dari satu wilayah ke wilayah berikutnya. Rujukannya adalah perusahaan listrik setempat.
| Jepang timur | Jepang barat | |
|---|---|---|
| Frekuensi | 50 Hz | 60 Hz |
| Contoh | Wilayah Tokyo, Tohoku, Hokkaido | Nagoya, Osaka, Hiroshima, Kyushu |
| Batas | Kira-kira Sungai Fuji (Shizuoka) sampai Itoigawa (Niigata); bukan garis lurus | |
| Artinya bagi Anda | Mesin Jepang bisa saja di-setup dan diuji pada salah satu frekuensi. Cek yang mana, dan apakah juga diuji pada frekuensi Anda (50 Hz) | |
"Teiatsu" (Tegangan Rendah) Tidak Berarti Aman
Dokumen Jepang memakai tiga kategori tegangan menurut hukum, dari peraturan kementerian tentang standar teknis peralatan listrik (Pasal 2). Baik 200 V maupun 400 V AC termasuk teiatsu (tegangan rendah). Misalnya, 3.300 V dan 6.600 V AC masuk kategori koatsu (tegangan tinggi) dan penanganannya berbeda dari daya tegangan rendah 200 V dan 400 V. Jadi bila dokumen Jepang menulis "tegangan tinggi", yang dimaksud bukan 400 V.
Gambar 3: Kategori Tegangan Menurut Hukum Jepang
Dari Pasal 2 peraturan tersebut. Perhatikan beda antara "sampai" (batas termasuk) dan "di atas".
| Kategori | AC | DC |
|---|---|---|
| Tegangan rendah (teiatsu) | 600 V atau kurang | 750 V atau kurang |
| Tegangan tinggi (koatsu) | Di atas 600 V sampai 7.000 V | Di atas 750 V sampai 7.000 V |
| Tegangan ekstra tinggi (tokubetsu koatsu) | Di atas 7.000 V | Di atas 7.000 V |
Ini istilah hukum Jepang. Di Indonesia, istilah dan batasnya mengikuti PUIL (SNI 0225) dan ketentuan PLN, yang berbeda dari tabel ini (misalnya PUIL membahas tegangan rendah sampai 1000 V AC). Pakai kategori yang berlaku untuk proyek Anda.
Nama kategori menurut hukum bukan peringkat keselamatan. Untuk beban resistif, hukum Ohm (V = RI) menyatakan arus naik bersama tegangan pada tahanan tetap, tetapi tubuh manusia tidak bisa disederhanakan menjadi satu tahanan tetap atau satu ambang arus yang memisahkan aman dari berbahaya. Tingkat keparahan sengatan listrik bergantung pada bagian yang tersentuh, jalur arus, lama kontak, dan kelembapan, dan bahkan 100 V membawa bahaya sengatan yang nyata. Tegangan rendah tidak menghapus kebutuhan akan penutup bagian bertegangan, pembumian dan proteksi yang benar, serta prosedur lockout (K3 listrik).
Jepang vs Pabrik Anda: Tegangan dan Frekuensi Suplai yang Umum
Tabel berikut menaruh Jepang di samping Indonesia dan negara lain yang sering muncul di proyek mesin Jepang. Anggap ini titik awal. Nilai nominal yang dipublikasikan dan hasil ukur di pabrik bisa berbeda, dan jaringan lama di beberapa negara masih memakai 380 V atau 415 V walaupun nominal resminya 400 V.
Gambar 4: Suplai Pabrik 3 Fasa yang Umum per Negara
Nilai nominal dari acuan yang dipublikasikan. Selalu konfirmasi tegangan, frekuensi, dan sistem jaringan sebenarnya di lokasi Anda.
| Negara | Tegangan 3 fasa yang umum | Frekuensi | Catatan |
|---|---|---|---|
| Jepang | 200 V; kelas 400 V (400/415/440 V) untuk beban besar | 50 Hz timur / 60 Hz barat | 1 fasa 100 V untuk penerangan dan beban kecil |
| Indonesia | 380 V (220/380 V) pada jaringan tegangan rendah PLN; daftar internasional sering menulis 400 V | 50 Hz | Standar PLN: SPLN 1:1995. Ukur tegangan di titik sambung, dan minta pemasok mencantumkan rentang toleransi |
| Thailand | 400 V | 50 Hz | |
| Vietnam | 400 V nominal; 380 V (220/380 V) masih banyak disebut | 50 Hz | Konfirmasi ke perusahaan distribusi setempat |
| Malaysia | 400 V resmi; dalam praktik sering 415 V | 50 Hz | |
| Filipina | 400 V | 60 Hz | Salah satu dari sedikit negara 60 Hz di kawasan ini |
| India | 415 V (240/415 V) umum dipakai | 50 Hz | IS 12360 mencantumkan 230/400 V, tetapi sebuah amendemen menunda peralihan dari 240/415 V |
| Amerika Serikat | 480 V (277/480 V), 208 V (120/208 V), 240 V | 60 Hz | Name plate motor memakai tegangan pemakaian: 460 V pada sistem 480 V, 200 V pada 208 V, 230 V pada 240 V |
Sumber tercantum di akhir artikel. Bila sumber berbeda, kedua nilai ditampilkan.
Ada dua pola yang menonjol. Pertama, mesin 200 V Jepang tidak cocok dengan tegangan suplai hampir di semua tempat di luar Jepang, termasuk 380 V di Indonesia. Satu-satunya pengecualian sebagian adalah sistem 208 V di Amerika Serikat, yang dekat dengan 200 V Jepang tetapi tetap harus dicek terhadap rentang rating mesin. Kedua, sebagian besar Asia Tenggara dan India memakai 50 Hz, Amerika Serikat dan Filipina 60 Hz, sedangkan Jepang memakai keduanya, sehingga pertanyaan frekuensi bergantung pada lokasi pemasok dan lokasi Anda.
Mengapa Tegangan Mengubah Arus dan Rugi Kabel
Untuk daya yang sama, tegangan suplai yang lebih tinggi berarti arus yang lebih rendah. Itu sebabnya pabrik menjalankan motor besar pada kelas 400 V atau 380 V, bukan 200 V. Daya adalah laju pemakaian energi listrik, diukur dalam watt (W) atau kilowatt (kW). Untuk DC, daya adalah tegangan kali arus. Untuk AC, jumlah fasa dan faktor daya juga diperhitungkan.
Pada daya nyata dan faktor daya yang sama, tegangan dua kali lipat membuat arus separuhnya. Ini membandingkan dua motor, masing-masing dirancang untuk tegangannya sendiri. Artinya bukan Anda boleh memberi 400 V pada motor 200 V.
Contoh: Arus Saluran Motor 7,5 kW pada Tegangan Berbeda
Angka kW pada name plate motor biasanya adalah daya poros terating, bukan masukan listrik. Efisiensi adalah daya poros dibagi masukan listrik, dan faktor daya adalah daya nyata dibagi daya semu. Untuk menghitung arus dari daya poros, keduanya diperlukan.
Ambil motor 3 fasa hipotetis: daya poros 7,5 kW, efisiensi 90%, faktor daya 0,80. Sebagai ilustrasi, anggap efisiensi dan faktor daya sama pada setiap versi tegangan. Arus terating yang sebenarnya diambil dari datasheet masing-masing produk.
Gambar 5: Daya Poros Sama, Tiap Motor pada Tegangan Terating Masing-Masing
Contoh hipotetis: 7,5 kW, efisiensi 90%, faktor daya 0,80. Dua motor terpisah, bukan satu motor pada dua tegangan.
Pada efisiensi 90%, kedua motor menarik masukan listrik sekitar 8,33 kW. Pindah ke 400 V tidak membuat pemakaian energi menjadi separuh. Yang separuh adalah arusnya. Rumus yang sama memberi hasil berikut untuk tegangan yang mungkin Anda temui, termasuk 380 V di Indonesia:
Gambar 6: Arus Saluran Motor 7,5 kW Hipotetis yang Sama
Asumsi sama seperti di atas (efisiensi 90%, faktor daya 0,80), dihitung pada tiap tegangan. Bukan nilai datasheet.
| Tegangan terating | Di mana ditemui | Arus saluran | Rugi I²R kabel dibanding 200 V (kabel sama) |
|---|---|---|---|
| 200 V | Jepang | sekitar 30,1 A | 100% |
| 208 V | Sistem 120/208 V di AS | sekitar 28,9 A | sekitar 92% |
| 380 V | Jaringan PLN di Indonesia | sekitar 15,8 A | sekitar 28% |
| 400 V | Kelas 400 V Jepang, Asia Tenggara | sekitar 15,0 A | 25% |
| 415 V | India, Malaysia | sekitar 14,5 A | sekitar 23% |
| 460 V | Sistem 480 V di AS (name plate motor) | sekitar 13,1 A | sekitar 19% |
Rasio rugi = (200 / V)². Motor nyata pada tegangan berbeda punya efisiensi dan faktor daya berbeda. Pakai arus dari datasheet untuk menentukan ukuran kabel dan breaker.
Arus Lebih Rendah Mengurangi Rugi Resistif Kabel
Panas yang hilang di kabel sebanding dengan kuadrat arus. Dengan bahan konduktor, panjang, dan luas penampang yang sama, arus separuh memotong rugi resistif kabel menjadi seperempat.
Gambar 7: Arus Separuh, Rugi Kabel Seperempat
Nilai relatif dengan 200 V = 100. Daya, faktor daya, dan tahanan kabel sama.
Arus yang lebih rendah mungkin memungkinkan kabel yang lebih kecil, tetapi setelah ukuran kabel diperkecil, rugi tidak otomatis menjadi seperempat dari semula. Pilih ukuran yang memenuhi KHA (kemampuan hantar arus), drop tegangan, ketahanan hubung singkat, dan kondisi pemasangan, lalu evaluasi ulang dengan kabel itu. Drop tegangan juga bergantung pada arus serta tahanan dan reaktansi kabel, jadi tegangan yang lebih tinggi membantu di sini juga. Jangan memperkecil ukuran kabel hanya dari rasio tegangan tanpa mengecek jenis rangkaian, faktor daya, dan panjang jalur.
Apa yang Berubah pada 50 Hz vs 60 Hz
Mencocokkan tegangan baru separuh pekerjaan. Kecepatan motor induksi mengikuti frekuensi suplai: kecepatan sinkron adalah 120 × f / jumlah kutub, jadi motor 4 kutub berputar pada kecepatan sinkron 1.500 rpm pada 50 Hz dan 1.800 rpm pada 60 Hz. Kecepatan sebenarnya sedikit lebih rendah karena slip.
Katalog Jepang menunjukkan bagaimana ini tampil pada pelat rating. Motor kelas 400 V, 4 kutub, 5,5 kW seri SF-PR dari Mitsubishi Electric berating untuk empat kombinasi tegangan dan frekuensi, masing-masing dengan arus dan kecepatan sendiri:
Gambar 8: Satu Motor, Empat Rating (Contoh Katalog)
Mitsubishi Electric SF-PR, kelas 400 V, 4 kutub, 5,5 kW, sebagaimana tercantum di spesifikasi online pabrikan.
| Tegangan | Frekuensi | Arus terating | Kecepatan terating |
|---|---|---|---|
| 400 V | 50 Hz | 11,3 A | 1.465 rpm |
| 400 V | 60 Hz | 10,4 A | 1.760 rpm |
| 440 V | 60 Hz | 10,0 A | 1.765 rpm |
| 460 V | 60 Hz | 9,9 A | 1.770 rpm |
Baca arus dan kecepatan dari baris yang sama dengan tegangan dan frekuensi Anda. Jangan mencampur nilai dari kolom yang berbeda. Model dan pabrikan lain berbeda; cek name plate sebenarnya.
Dua hal mengikuti dari sini. Pompa, fan, atau konveyor yang digerakkan langsung oleh motor berputar sekitar 20% lebih cepat pada 60 Hz dibanding 50 Hz, yang mengubah outputnya dan bebannya pada motor. Tanyakan apakah pemasok menentukan ukuran dan menguji mesin pada frekuensi Anda. Selain itu, motor yang hanya berating 60 Hz belum tentu aman pada 50 Hz dengan tegangan yang sama: rasio tegangan terhadap frekuensi naik sekitar 20%, yang menaikkan fluks magnet dan bisa membuat motor terlalu panas. Kemampuan outputnya juga turun. Pengurangan rating (derating) atau penyesuaian tegangan harus datang dari pabrikan motor.
Komponen Lain yang Peka terhadap Frekuensi
Motor bukan satu-satunya komponen yang perlu dicek. Koil AC pada kontaktor, relai, dan solenoid valve berating untuk tegangan dan frekuensi tertentu, dan koil AC serta DC tidak bisa saling menggantikan. Fan pendingin AC di panel dan semua yang pewaktuannya diambil dari frekuensi jaringan juga perlu dilihat. Banyak komponen mencantumkan "50/60 Hz", tetapi konfirmasikan item demi item di parts list, jangan berasumsi.
Inverter (VFD)
Variable frequency drive, yang di dokumen Jepang disebut "inverter", mengubah situasinya. Frekuensi outputnya diatur lewat parameter, sehingga motor di belakang VFD tidak melihat frekuensi jaringan secara langsung. Dua pengecekan terpisah tetap berlaku.
- Input: kelas tegangan drive (kelas 200 V atau kelas 400 V) harus mencakup tegangan suplai Anda. Drive kelas 200 V tidak boleh disambung ke suplai 380 V atau 400 V.
- Output ke motor: drive dan motor harus cocok tegangannya. Mitsubishi Electric menyatakan inverter 400 V tidak boleh menggerakkan motor 200 V, karena tegangan puncak output inverter bisa melebihi ketahanan tegangan motor, walaupun setting output diturunkan. Pakai inverter 200 V untuk motor 200 V, dan tanyakan ke pabrikan tentang tegangan puncak output dan isolasi motor untuk kombinasi lain.
Bila mesin punya drive, daftarkan masing-masing dengan model dan kelas tegangannya, lalu tanyakan ke pemasok apakah ada versi kelas 400 V untuk pabrik Anda.
Apakah Anda Butuh Trafo?
Mencocokkan mesin dengan suplai menghindarkan peralatan konversi. Bila pabrik Anda punya suplai 200 V dan mesinnya versi 200 V, mungkin tidak ada trafo step-down yang dibutuhkan untuk suplai utama. Logika yang sama berlaku untuk beban kecil: memilih perangkat AC 200 V di tempat yang sudah ada AC 200 V bisa menghilangkan trafo khusus untuk menurunkan ke AC 100 V. Di sebagian besar pabrik di luar Jepang, termasuk di Indonesia, Anda harus memilih salah satu dari dua opsi: memesan mesin dalam versi yang cocok dengan suplai Anda, atau mempertahankan versi 200 V dan menambah trafo step-down.
Gambar 9: Keputusan Trafo Sekilas
Hanya penyaringan cepat. Keputusan akhir ada pada insinyur listrik Anda dan pemasok mesin.
| Suplai Anda | Mesin sebagaimana dibuat | Kemungkinan hasil | Konfirmasi |
|---|---|---|---|
| Indonesia 380 V, 50 Hz | 3 fasa 200 V | Trafo step-down, atau pesan versi kelas 400 V | Apakah semua motor, drive, dan power supply tersedia atau berating untuk 380 V, 50 Hz |
| Indonesia 380 V, 50 Hz | Kelas 400 V (berating 400 V) | Mungkin cocok, tetapi 380 V berada di bawah nominal | Rentang toleransi tegangan tiap komponen dan arus motor pada 380 V |
| AS 480 V, 60 Hz | 3 fasa 200 V | Trafo step-down, atau pesan versi kelas 400 V / 460 V | Apakah semua motor dan drive ditawarkan pada 460 V, 60 Hz |
| AS 208 V, 60 Hz | 3 fasa 200 V | Mungkin masuk dalam rentang rating mesin | Rentang tegangan terating setiap motor, drive, dan power supply |
| India 415 V, 50 Hz | 3 fasa 200 V | Trafo step-down, atau versi kelas 400 V | Apakah komponen berating 400 V menerima 415 V; rating 50 Hz |
| Asia Tenggara 380–415 V, 50 Hz | 3 fasa 200 V | Trafo step-down, atau versi kelas 400 V | Tegangan ukur di lokasi vs rentang rating; rating 50 Hz |
| Mana saja | Mengandung beban 1 fasa 100 V | Trafo kontrol internal, atau suplai 100 V terpisah | Beban mana yang memakai 100 V, dan apakah trafo internal punya tap untuk tegangan Anda |
| Mana saja | Hanya kontrol 24 V DC | Tidak terpengaruh tegangan jaringan secara langsung | Rating input power supply 24 V |
Trafo menambah rugi, ruang, proteksi, dan penentuan kVA sendiri (termasuk saat motor start). Semua itu masuk dalam design review.
Bahkan ketika trafo tampak lebih sederhana, itu bukan satu-satunya faktor. Suku cadang, tegangan kontrol yang seragam di seluruh pabrik, penggantian saat ada kerusakan, perlindungan sengatan, dan perilaku saat listrik padam, semuanya mengarah pada mengikuti standar kelistrikan pabrik Anda sendiri. Saat mengganti komponen, bandingkan tegangan, AC atau DC, jumlah fasa, frekuensi, output, arus yang diizinkan, isolasi, dan proteksi, bukan hanya tegangan. Sebagian produk bisa dialihkan antara 200 V dan 400 V, tetapi sambungan terminal dan kondisi pemakaian ditentukan oleh manual produk itu, bukan oleh name plate saja.
Pilihan tegangan juga tidak menyelesaikan semuanya. Kelangsungan operasi saat listrik padam butuh kajian UPS sendiri, dan isolasi sinyal butuh kajian isolator sendiri. Bila sebuah perangkat tersedia dalam versi 100 V dan 200 V, seperti sebagian motorized valve, bandingkan juga sinyal perintah, arus start, perlu-tidaknya konversi daya, dan suku cadang perawatan, selain suplai utama.
Cek Rangkaian 24 V DC di Ujung Beban
Kontrol 24 V DC tidak bergantung pada jaringan Anda, tetapi punya batas sendiri: drop tegangan. Bila mesin Jepang dipasang dengan kabel lapangan yang lebih panjang daripada di pabrik pemasoknya, drop kecil saja bisa membuat perangkat jatuh di bawah input minimumnya. Cek bukan hanya kondisi tunak, tetapi juga arus saat solenoid valve dan beban sejenis bekerja bersamaan, dan hitung seluruh loop (pergi dan pulang) dari suplai ke perangkat.
Sebagai contoh, anggap suplai 24 V, arus beban 2 A, dan tahanan loop total 1 Ω. Kabel menurunkan 2 V, sehingga perangkat menerima 22 V. Cek nilai itu terhadap tegangan input minimum perangkat di datasheet-nya.
Gambar 10: 24 V di Suplai Bukan 24 V di Perangkat
Mengasumsikan 2 A melalui tahanan loop total 1 Ω (pergi ditambah pulang). Jangan menghitung jalur pulang dua kali.
Power supply dengan kapasitas besar tetap bisa menyisakan tegangan kurang di ujung karena tahanan kabel atau arus inrush. Sebelum menaikkan output suplai, cek ukuran dan jarak kabel, rentang input yang diizinkan tiap perangkat, dan apakah ada perangkat yang kemudian akan melihat tegangan berlebih.
AC 24 V dan DC 24 V adalah suplai yang berbeda, dan sebagian perangkat DC peka terhadap polaritas, jadi konfirmasi jenis tegangan dan polaritas di diagram terminal. Kontak kering (kontak tanpa tegangan) tidak memberikan tegangan sendiri, jadi cek diagram terminal untuk rangkaian input penerima dan suplai eksternal yang dibutuhkannya. Informasi bahwa suplai utama mesin adalah 200 V tidak memberi tahu apa-apa tentang kondisi sinyalnya, jadi tinjau spesifikasi daya dan spesifikasi I/O secara terpisah.
Checklist Sebelum Memesan atau Menyambung
- Suplai pabrik: tegangan terukur, frekuensi, jumlah fasa, dan jenis sistem di titik sambung
- Suplai utama mesin: tegangan, frekuensi, fasa, dan arus beban penuh terating dari name plate dan gambar listrik
- Setiap motor: kombinasi tegangan dan frekuensi yang tercantum, serta arus dan kecepatan pada baris yang cocok dengan suplai Anda
- Setiap drive (inverter/VFD): kelas tegangan input vs suplai Anda, dan tegangan motor vs kelas output drive
- Beban 1 fasa 100 V: beban yang mana, dan bagaimana disuplai
- Trafo kontrol: tap primer yang tersedia, dan apakah ada yang cocok dengan tegangan Anda
- Koil AC, fan panel, dan komponen peka frekuensi: rating 50/60 Hz di parts list
- Power supply 24 V DC: rating input, kapasitas, dan tegangan di perangkat terjauh
- Kondisi pengujian: tegangan dan frekuensi saat pemasok menjalankan factory acceptance test
- Trafo (bila perlu): siapa yang menyediakan, kVA termasuk start motor, dan proteksi
- Peraturan setempat: standar dan persetujuan apa yang harus dipenuhi instalasi (misalnya PUIL), dan siapa yang mengesahkan
Pertanyaan untuk Pemasok Jepang
- Apakah mesin dibuat dan diuji pada 50 Hz atau 60 Hz? Apakah juga diuji pada frekuensi kami?
- Bisakah Anda menyediakan versi kelas 400 V (atau 380 V, 50 Hz) sebagai pengganti 200 V? Bagian mana yang berubah?
- Mohon daftarkan semua motor dan drive dengan model, kelas tegangan, dan kombinasi tegangan/frekuensi terating.
- Beban mana yang memakai 1 fasa 100 V, dan berapa total arusnya?
- Apakah trafo kontrol punya tap primer untuk tegangan suplai kami?
- Bila kami memakai trafo step-down, berapa kVA dan tegangan yang Anda rekomendasikan, termasuk arus start?
- Apakah ada komponen yang berating untuk satu frekuensi saja (koil, fan, timer)?
- Berapa rentang tegangan suplai yang diizinkan untuk seluruh mesin?
Template Email
Salin, isi bagian dalam kurung siku, lalu kirim. Pertanyaan pendek dan bernomor lebih mudah dijawab dan diterjemahkan oleh insinyur Jepang. Template ditulis dalam bahasa Inggris karena itu bahasa korespondensi yang paling umum dengan pemasok Jepang.
Batas Panduan Ini
- Tabel tegangan didasarkan pada nilai nominal yang dipublikasikan. Tegangan pabrik yang sebenarnya, toleransi, dan jenis sistem (pembumian, bintang atau segitiga) berbeda menurut lokasi dan perusahaan listrik, dan panduan ini tidak membahasnya.
- Angka arus dan rugi adalah untuk motor hipotetis dengan efisiensi dan faktor daya tetap. Motor nyata berbeda menurut versi tegangan dan pabrikan.
- Data motor Mitsubishi adalah satu contoh katalog. Pabrikan dan model lain mencantumkan kombinasi yang berbeda.
- Derating motor pada frekuensi di luar rating, penentuan ukuran trafo, ukuran kabel, dan setelan proteksi adalah keputusan desain insinyur listrik Anda dan pabrikan peralatan.
- Instalasi listrik di Indonesia harus mengikuti PUIL (SNI 0225:2011 dan Amd 1:2013) dan peraturan K3 yang berlaku, antara lain UU No. 1 Tahun 1970. Tanyakan ke penanggung jawab K3 listrik di pabrik Anda mengenai persyaratan yang berlaku, termasuk uji laik operasi.
- Pemeriksaan dan penggantian harus mengikuti prosedur yang ditetapkan penanggung jawab di lokasi Anda untuk pemutusan daya, pencegahan penyalaan kembali (lockout-tagout), dan pemastian tegangan nol. Waspadai suplai terpisah, keluaran UPS, dan energi tersimpan di dalam peralatan daya, dan pastikan Anda telah mengidentifikasi setiap suplai yang masuk ke area kerja.
FAQ
Berapa Tegangan yang Dipakai Pabrik di Jepang?
Paling umum 3 fasa 200 V untuk motor, kelas 400 V (400, 415, atau 440 V) untuk beban besar, 1 fasa 100 V untuk penerangan dan peralatan kecil, dan 24 V DC untuk kontrol. Frekuensinya 50 Hz di Jepang timur dan 60 Hz di Jepang barat.
Bisakah Mesin Jepang 200 V Dipakai pada 380 V di Indonesia?
Tidak secara langsung. Jangan pernah menyambungkan tegangan di atas rating kecuali mesin secara eksplisit dispesifikasikan untuk itu. Pakai trafo step-down yang ukurannya ditentukan insinyur Anda, atau minta ke pemasok versi kelas 400 V (50 Hz), lalu konfirmasi pengawatan, frekuensi, dan setelan proteksi dari dokumen pabrikan.
Apakah Motor Jepang 60 Hz Bisa Dipakai pada 50 Hz?
Hanya bila berating 50 Hz. Banyak motor Jepang mencantumkan keduanya, dengan nilai arus dan kecepatan terpisah. Motor yang hanya berating 60 Hz berputar sekitar 17% lebih lambat pada 50 Hz, dan pada tegangan yang sama fluksnya naik sehingga bisa terlalu panas, jadi minta panduan pabrikan sebelum memakainya.
Apakah 400 V "Tegangan Tinggi" di Jepang?
Bukan. Menurut peraturan peralatan listrik Jepang, AC 600 V atau kurang adalah teiatsu (tegangan rendah), jadi 400 V termasuk tegangan rendah. Istilah itu tidak berarti aman disentuh. Penutup bagian bertegangan dan lockout tetap berlaku.
Apakah 24 V DC Aman dari Sengatan dan Kebakaran?
Tidak otomatis. Tegangan rendah punya keuntungan, tetapi tidak membuat suatu rangkaian aman dengan sendirinya. Hubung singkat tetap bisa mengalirkan arus besar, jadi cek karakteristik proteksi power supply dan proteksi pada setiap rangkaian cabang.
Sumber
- Kategori tegangan menurut hukum Jepang (Pasal 2): e-Gov, Ministerial Ordinance on Technical Standards for Electrical Equipment (bahasa Jepang)
- Pemberlakuan wajib PUIL 2011 (SNI 0225:2011) dan Amd 1:2013 di Indonesia: Kementerian ESDM, Pemberlakuan SNI PUIL
- Cakupan tegangan rendah dalam PUIL: SNI 04-0225-2000 (PUIL 2000), salinan di situs pihak ketiga
- Tegangan standar PLN: SPLN 1:1995, Tegangan-Tegangan Standar (dirujuk dalam literatur teknik; nilai terbaru dikonfirmasi ke PLN)
- Pembagian 50/60 Hz Jepang dan asalnya: Wikipedia, "Fuji River"; IEEE Milestone, Sakuma Frequency Converter Station
- Batas Sungai Fuji–Itoigawa: Jackery Japan, area campuran 50 Hz/60 Hz (bahasa Jepang); Joshin, frekuensi per wilayah (bahasa Jepang)
- Tegangan dan frekuensi 3 fasa per negara: WorldStandards, "Three-phase electric power"
- Tegangan sistem AS vs tegangan name plate motor: NEMA, "NEMA Motor Standards vs. IEC Motor Standards"; Power Transmission Engineering, Baldor Basics
- Tegangan nominal India: BIS, IS 12360:1988 Voltage Bands for Electrical Installations
- Contoh rating motor (SF-PR kelas 400 V, 4 kutub, 5,5 kW): Mitsubishi Electric, spesifikasi SF-PR (bahasa Jepang)
- Inverter 400 V dengan motor 200 V: Mitsubishi Electric FA FAQ (bahasa Jepang)
- Persamaan daya dan faktor daya: HIOKI, persamaan pengukuran PW4001 (bahasa Jepang); Japan Electrical Engineers Association, metode dua wattmeter (bahasa Jepang)
- Power supply AC ke DC, rating, dan proteksi: OMRON, glosarium power supply (bahasa Jepang); OMRON, rating S8VK-WA (bahasa Jepang)
- Koil relai AC/DC dan polaritas: OMRON, panduan teknis relai umum (bahasa Jepang)
- Power supply vs input kontak kering: OMRON, spesifikasi I/O WT21 (bahasa Jepang)
- Faktor sengatan listrik dan kecelakaan tegangan rendah: Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang (MHLW), "Sengatan listrik" (bahasa Jepang); MHLW, contoh kecelakaan kerja tegangan rendah (bahasa Jepang)
- Tindakan untuk pekerjaan dengan pemutusan daya (peraturan terpisah dari peraturan kategori tegangan): MHLW, Ordinance on Industrial Safety and Health (bahasa Jepang)
Artikel asli dalam bahasa JepangPanduan ini disusun dari artikel MONOSCOPE yang ditulis untuk pembaca di Jepang: 400V・200V・100V・24Vの違いとは?工場の使い分けと電流・配線損失の計算


