TBM vs CBM: Beda Time-Based dan Condition-Based Maintenance

Jika Anda merawat mesin di pabrik Jepang di Indonesia, atau mesin buatan Jepang, rencana maintenance yang Anda terima kemungkinan besar penuh interval tetap, misalnya "overhaul setiap Maret" (membongkar mesin untuk diperiksa dan diservis) atau "ganti filter setiap 5.000 jam operasi". Rekan Jepang Anda menyebutnya TBM, time-based maintenance. Di sisi lain, kantor pusat mungkin meminta Anda "beralih dari TBM ke CBM" dan memasang sensor di semua mesin. Mana yang sebaiknya tetap memakai interval tetap, mana yang dipantau, dan mana yang boleh dipakai sampai rusak?
Catatan: dalam artikel ini TBM berarti time-based maintenance, bukan toolbox meeting yang juga disingkat TBM di lapangan. Pabrik Jepang memadukan tiga pendekatan: TBM, CBM (condition-based maintenance), dan BM (breakdown maintenance, memperbaiki mesin setelah rusak). Pilihannya dibuat per mesin, bahkan sering per komponen, karena mengganti semuanya menurut interval tetap membuat biaya membengkak, dan pekerjaan penggantian itu sendiri bisa memicu kerusakan. Panduan ini membandingkan ketiganya, menjelaskan mengapa interval tetap saja tidak mencegah sebagian besar kerusakan, lalu memberi urutan keputusan, cara memadukan metode berdasarkan tingkat kekritisan, dan checklist untuk meninjau rencana yang sudah ada.
Daftar isi
- Tiga Jenis Maintenance: BM, TBM, dan CBM
- TBM vs CBM: Perbedaan Utama
- Mengapa Penggantian Berinterval Tetap Saja Tidak Cukup
- Tiga Syarat agar CBM Berhasil
- Cara Memilih Jenis Maintenance: Empat Pertanyaan Berurutan
- Memadukan Metode Menurut Kekritisan dan Komponen
- Meninjau Jenis Maintenance: Lima Langkah dan Kesalahan Umum
- Istilah Maintenance Jepang: Rujukan Cepat
- Checklist: Sebelum Mengubah Metode atau Interval Maintenance
- Pertanyaan untuk Pihak Jepang
- Batasan Panduan Ini
- Ringkasan
- FAQ
- Sumber
Tiga Jenis Maintenance: BM, TBM, dan CBM
Istilah maintenance berbeda-beda antar perusahaan dan industri, jadi mulailah dari standar Jepang. JIS Z 8115:2019, kosakata dependability Jepang (memakai nomor istilah IEC 60050-192), membagi maintenance menjadi preventive maintenance dan corrective maintenance.
JIS mendefinisikan preventive maintenance (yobo hozen) sebagai maintenance yang dilakukan untuk menekan dampak degradasi dan mengurangi probabilitas kerusakan. Di dalamnya ada dua jenis. Maintenance menurut jadwal yang ditetapkan, jikan keikaku hozen ("scheduled maintenance" dalam istilah IEC), adalah yang di lapangan disebut TBM. Maintenance berdasarkan penilaian kondisi fisik, jotai kijun hozen, adalah CBM.
Corrective maintenance, jigo hozen, yang di lantai pabrik Jepang biasanya disingkat BM (breakdown maintenance), mengembalikan mesin ke kondisi yang dipersyaratkan setelah kerusakan ditemukan. Untuk gambaran luas tentang pekerjaan tim maintenance Jepang dan kaitannya dengan TPM, lihat artikel tentang hozen. Artikel ini fokus pada perbedaan ketiga jenis dan cara memilihnya.
Maintenance terbagi menjadi preventive dan corrective. TBM dan CBM adalah dua jenis preventive maintenance.
Disusun dari istilah dan definisi JIS Z 8115:2019. Pabrik Jepang juga memakai nama lain, misalnya jikan kijun hozen untuk TBM dan jotai kanshi hozen untuk CBM.
TBM sendiri punya dua bentuk. Periodic maintenance (teiki hozen) berjalan menurut interval kalender, sedangkan age-based maintenance (keiji hozen) berjalan ketika akumulasi jam operasi mencapai nilai tertentu. "Overhaul setiap Maret" termasuk periodic; "ganti filter setiap 5.000 jam operasi" termasuk age-based.
Tidak ada yang lebih unggul di antara ketiganya. Yang membedakan adalah pemicu pekerjaannya: kerusakan, waktu, atau kondisi mesin. Masing-masing cocok untuk mesin yang berbeda dan punya kelemahan sendiri.
Bandingkan pemicu, objek yang cocok, dan kelemahannya.
BM dipakai dengan dua cara. Pertama, bereaksi di tempat terhadap kerusakan yang tak terduga. Kedua, memutuskan sejak awal bahwa sebuah mesin akan dipakai sampai rusak. Cara kedua bukan pembiaran. Itu pilihan sah yang dibuat setelah membandingkan biaya dan dampak, dan bagian keputusan di bawah membahas kapan cocok.
TBM vs CBM: Perbedaan Utama

Keduanya preventive, tetapi cara menentukan kapan bertindak sama sekali berbeda. TBM memakai kalender atau jam operasi (hour meter). CBM mengukur kondisi mesin itu sendiri.
Apakah keputusan bertumpu pada waktu atau kondisi menentukan apa yang perlu disiapkan serta di mana kekuatan dan kelemahan masing-masing.
Keduanya adalah bentuk preventive maintenance. Satu mesin sering memakai keduanya.
TBM: Ditentukan Kalender atau Jam Operasi
Keunggulan terbesar TBM adalah pekerjaan maintenance bisa dimasukkan ke rencana produksi jauh-jauh hari. Overhaul yang dijadwalkan saat libur panjang, atau inspeksi di awal setiap bulan, memungkinkan Anda memesan waktu henti, tenaga, dan suku cadang lebih dulu.
Kelemahannya, interval cenderung bergeser ke sisi aman. Komponen yang masih punya banyak sisa umur ikut diganti, sehingga biaya suku cadang dan jam kerja membengkak. Setelah ditetapkan, interval sering dipakai bertahun-tahun padahal alasan pemilihannya sudah dilupakan.
CBM: Ditentukan Kondisi Hasil Pengukuran
JIS Z 8115 mendefinisikan CBM sebagai preventive maintenance berdasarkan penilaian kondisi fisik. Sebuah catatan menambahkan bahwa penilaian bisa berasal dari pengamatan operator menurut jadwal atau dari condition monitoring parameter sistem.
Jadi operator yang mendengarkan bunyi tidak normal atau meraba panas saat pemeriksaan harian (nichijo tenken), lalu memanggil maintenance bila ada yang janggal, sudah menjalankan CBM. Sensor mahal bukan syarat. Yang penting ada cara mengukur kondisi dan aturan yang jelas, misalnya "servis bila nilai ini terlampaui". Di pabrik TPM, pemeriksaan harian oleh operator ini bagian dari jishu hozen (autonomous maintenance).
CBM vs Predictive Maintenance (Yochi Hozen)
Rekan Jepang sering menyebut yochi hozen (predictive maintenance). Namun istilah yang didefinisikan dalam JIS Z 8115:2019 adalah condition-based maintenance. Yochi hozen biasanya berarti memakai data condition monitoring untuk memperkirakan kapan kerusakan terjadi lalu bertindak sebelum itu.
Karena bergantung pada pengumpulan data terus-menerus dan pembacaan tren, predictive maintenance paling mudah dipahami sebagai bentuk lanjut dari CBM. Dalam percakapan sehari-hari di Jepang kedua istilah ini sering tumpang tindih. Jadi saat seseorang berkata "yochi hozen", tanyakan apakah maksudnya prakiraan berbasis tren atau sekadar pengecekan kondisi.
Mengapa Penggantian Berinterval Tetap Saja Tidak Cukup

TBM berangkat dari anggapan bahwa komponen punya umur dan tidak akan rusak bila diganti sebelum umurnya habis. Studi di industri penerbangan menunjukkan bahwa kerusakan yang sesuai anggapan ini jauh lebih sedikit daripada yang dikira banyak orang.
F. Stanley Nowlan dan Howard F. Heap dari United Airlines (UAL) mengelompokkan cara komponen pesawat rusak menurut umur pakainya ke dalam enam pola. Laporan mereka, Reliability-Centered Maintenance, terbit pada 1978.
Menurut panduan Reliability-Centered Maintenance (RCM) NASA, tiga studi (UAL 1968, tindak lanjut di Swedia 1973, dan tindak lanjut Angkatan Laut AS 1982) menemukan bahwa kerusakan acak yang tidak terkait umur mencapai 77–92% dari seluruh kerusakan, sedangkan pola yang terkait umur hanya 8–23%.
Sebagian besar kerusakan tidak terkait umur, sehingga penggantian berdasarkan waktu saja tidak dapat mencegahnya.
Sumber: NASA, "Reliability-Centered Maintenance Guide for Facilities and Collateral Equipment" (2008). Studi mencakup pesawat dan kapal perang; angka-angkanya tidak bisa langsung dipakai untuk mesin pabrik.
Hanya Sedikit Komponen dengan Umur Aus yang Bisa Diprediksi
Panduan NASA menjelaskan bahwa pola aus yang jelas khas untuk komponen tunggal dan sederhana, sedangkan pada peralatan kompleks, umur aus yang jelas tidak lazim. Jika Anda memperlakukan satu motor, pompa, atau gearbox sebagai satu kesatuan dengan satu interval, memperpendek interval itu mungkin tidak mengurangi kerusakan sama sekali.
TBM memang bekerja baik pada komponen yang terpakai habis secara stabil, seperti V-belt, filter, dan lining rem. Sebelum memilih metode, ajukan satu pertanyaan lebih dulu: apakah komponen ini benar-benar menurun sebanding dengan pemakaian?
Overhaul Bisa Membawa Kerusakan Baru
Panduan yang sama mencatat bahwa dalam banyak kasus overhaul terjadwal menaikkan laju kerusakan keseluruhan karena memasukkan kerusakan fase awal (early-life failure) ke sistem yang semula stabil. Kesalahan perakitan, baut yang kurang kencang, dan kontaminasi mendapat kesempatan baru terjadi setiap kali mesin dibongkar.
"Setelah diinspeksi malah jadi tidak beres" adalah keluhan yang akrab di kalangan tim maintenance. CBM memungkinkan Anda membiarkan apa yang tidak perlu disentuh, dan itu salah satu keunggulan nyatanya.
Tiga Syarat agar CBM Berhasil
Itu tidak berarti semua mesin harus dialihkan ke CBM. CBM baru menguntungkan bila ketiga syarat berikut terpenuhi sekaligus. P-F curve, yang banyak dipakai di dunia maintenance, menunjukkan logikanya.
CBM bekerja di rentang waktu antara titik P, saat tanda degradasi pertama bisa terdeteksi, dan titik F, saat mesin kehilangan fungsinya.
Urutan metode deteksi adalah panduan umum tentang metode mana yang menangkap tanda paling awal (berdasarkan artikel di majalah InTech milik ISA). Panjang interval P-F sangat bervariasi menurut mode kerusakan dan metode deteksinya.
1. Degradasi Menunjukkan Tanda yang Bisa Diukur
Pertama, harus ada perubahan terukur sebelum kerusakan terjadi. Kerusakan bearing muncul sebagai getaran, sambungan listrik yang longgar sebagai panas, dan pelumas yang menurun sebagai kontaminasi atau perubahan kimia oli. Setiap mode kerusakan punya indikatornya sendiri.
Semakin awal tanda tertangkap, semakin banyak waktu untuk merespons. Itulah sebabnya analisis oli dan pengukuran getaran cenderung menemukan masalah lebih dulu daripada pemeriksaan indra.
2. Ada Waktu antara Tanda dan Kerusakan
Kedua, waktu dari P ke F, yaitu interval P-F, harus cukup untuk memeriksa, memesan suku cadang, menghentikan mesin, dan memperbaikinya. Bila interval P-F pendek, inspeksi bulanan akan melewatkan peringatan dan mesin tetap rusak.
Patokan umum adalah memeriksa dengan interval kurang dari separuh interval P-F, agar ada lebih dari satu kesempatan menangkap tandanya. Jika interval P-F sangat pendek, beralihlah ke pemantauan kontinu atau pilih metode selain CBM.
3. Pemantauan Sebanding dengan Biayanya
Ketiga, hitungannya harus masuk. Jumlahkan biaya memasang sensor, menyimpan data, dan jam kerja orang yang menilai data. Jika totalnya melebihi kerugian yang dicegah dan biaya penggantian yang dihemat, CBM kurang masuk akal.
Bila pemantauan kontinu diperluas ke motor kecil atau mesin yang punya unit cadangan, sistem pemantauannya sendiri bisa menjadi beban maintenance. Terapkan pemantauan canggih lebih dulu pada mesin yang paling tidak boleh berhenti, lalu turun ke yang lain.
Cara Memilih Jenis Maintenance: Empat Pertanyaan Berurutan
Jika poin-poin di atas dijadikan prosedur untuk tiap mesin atau komponen, urutannya seperti di bawah ini. Ajukan pertanyaan dari atas; jawaban "ya" yang pertama menentukan metodenya.
Telusuri dari pertanyaan teratas. Jawaban "ya" yang pertama menentukan metode.
Kerusakan yang dapat mencederai orang atau merusak lingkungan tidak pernah dihitung sebagai "dampak kecil" pada Q2.
Q1: Interval yang Diwajibkan Peraturan Didahulukan
Periksa peraturan lebih dulu. Di Jepang, misalnya, Ordinance on Safety of Cranes mewajibkan periodic self-inspection crane minimal sekali setahun dan sekali sebulan. Menurut Ordinance on Industrial Safety and Health, forklift memerlukan specified self-inspection (tokutei jishu kensa) dengan interval tidak lebih dari satu tahun dan periodic self-inspection dengan interval tidak lebih dari satu bulan.
Untuk peralatan semacam ini, Anda memeriksa pada interval yang diwajibkan, sebaik apa pun kondisinya. CBM boleh ditambahkan di atas inspeksi wajib, tetapi tidak menggantikannya. Di Indonesia, peralatan seperti crane dan forklift termasuk pesawat angkat dan pesawat angkut yang diatur dalam Permenaker No. 8 Tahun 2020 tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, dan bejana tekanan diatur dalam Permenaker No. 37 Tahun 2016. Interval, pelaksana, dan dokumen pemeriksaan berkalanya mengikuti peraturan tersebut dan ketentuan pengawas ketenagakerjaan. Tanyakan ke Ahli K3 atau bagian compliance di pabrik Anda sebelum mengubah interval apa pun yang berkaitan dengan K3.
Pemantauan yang lebih baik kadang bisa membenarkan interval wajib yang lebih panjang di Jepang. Menurut High Pressure Gas Safety Institute of Japan (KHK), lokasi "super-certified" di bawah High Pressure Gas Safety Act Jepang dapat menetapkan sendiri periode operasi kontinu hingga delapan tahun, dibandingkan periode seperti empat tahun untuk lokasi bersertifikat biasa. Salah satu syarat tambahan sertifikasi super itu adalah penerapan teknologi baru seperti IoT dan big data. Ini contoh di Jepang; jangan diasumsikan berlaku di Indonesia.
Q2: Dampak Kecil? Pilih BM
Berikutnya, lihat apa yang terjadi saat mesin berhenti. Panduan RCM NASA memperlakukan run-to-failure (reactive maintenance) sebagai keputusan yang disengaja dan dapat diterima untuk sebagian peralatan. Contohnya motor listrik non-kritis di bawah 7,5 hp (sekitar 5,5 kW), pendingin ruangan kenyamanan, kipas pembuangan toilet, pemanas air bersuhu rendah berukuran kecil, dan item lain yang akibat kerusakannya dapat diabaikan.
Di pabrik, kandidatnya antara lain AC kantor, pompa kecil yang punya unit cadangan, dan lampu. Jika inspeksi dan penggantian pencegahan lebih mahal daripada memperbaiki setelah rusak, BM adalah pilihan yang rasional.
Q3 dan Q4: Tanda Terukur Berarti CBM, Umur Terprediksi Berarti TBM
Untuk mesin yang dampaknya besar, terapkan tiga syarat CBM dari bagian sebelumnya. Jika tanda bisa diukur dan interval P-F memberi ruang cukup, pakai CBM. Jika degradasinya maju sesuai pemakaian, seperti aus, sehingga umur bisa diperkirakan kasar, pakai TBM. Bila keduanya berlaku, CBM lebih sedikit membuang komponen.
Tak Satu pun Cocok: Perbaiki Desainnya
Jika kerusakan datang tanpa peringatan dan waktunya tak bisa diprediksi, tidak ada metode maintenance yang menyelesaikannya; mesinnya sendiri yang harus berubah. Improvement maintenance (kairyo hozen) merevisi material atau struktur, dan maintenance prevention (hozen yobo) membawa pelajarannya ke desain mesin berikutnya.
Sebagian kerusakan bersifat tersembunyi. Alat pengaman dan sistem cadangan biasanya diam, sehingga kerusakannya tidak diketahui sampai alat itu dibutuhkan. Untuk itu, jadwalkan pengecekan berkala yang memastikan alat tersebut benar-benar bekerja. Untuk mendata mode kerusakan dan dampaknya secara sistematis, gunakan FMEA.
Memadukan Metode Menurut Kekritisan dan Komponen

Meski sudah ada urutan keputusan, menelaah setiap mesin di pabrik satu per satu adalah pekerjaan besar. Pendekatan yang umum adalah meranking mesin menurut kekritisan (criticality), menetapkan metode default untuk tiap peringkat, lalu turun ke tingkat komponen hanya untuk mesin kritis. Pemeringkatan kekritisan itu sendiri dibahas dalam artikel tentang alur kerja maintenance di pabrik Jepang.
Tetapkan default menurut kekritisan, dan pantau kondisi mesin kritis lebih ketat.
Setiap pabrik menetapkan sendiri jumlah peringkat dan kriterianya. Sebuah artikel InTech dari ISA memberi sebaran kasar: sekitar 10–20% aset berkekritisan tinggi, 20–30% sedang, dan 40–60% rendah.
Tetapkan Default Menurut Peringkat Kekritisan
Kriteria pemeringkatan yang umum antara lain:
- Dampak ke produksi saat mesin berhenti
- Dampak ke keselamatan dan lingkungan
- Dampak ke kualitas
- Waktu dan biaya perbaikan
- Ada tidaknya unit cadangan
Pabrik sering memberi skor tiap kriteria lalu menjumlahkannya. Tujuannya adalah memusatkan tenaga dan biaya maintenance pada mesin yang paling kritis. Jika semua mesin diperiksa dengan tingkat yang sama, mesin kritis justru kurang mendapat perhatian.
Satu Mesin, Metode Berbeda untuk Tiap Komponen
Bahkan mesin Peringkat A pun akan memakai campuran metode begitu dipecah menjadi komponen. Satu set pompa dan motor bisa seperti ini:
- Bearing: CBM berdasarkan pengukuran getaran
- V-belt dan gland packing: TBM, diganti pada interval tetap
- Lampu indikator: BM, diganti setelah mati
Daripada menyebut seluruh mesin "CBM", tetapkan metode untuk tiap komponen sesuai cara komponen itu benar-benar rusak. Biaya dan tenaga yang terbuang akan lebih sedikit.
Yang Tetap Dibutuhkan Mesin BM
Memilih BM bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Agar mesin bisa cepat diperbaiki saat rusak, siapkan:
- Stok suku cadang
- Prosedur perbaikan
- Perkiraan lama waktu penggantian
Selalu catat setiap kerusakan. Jika mesin yang sama terus rusak, anggapan bahwa dampaknya kecil tidak lagi berlaku, dan saatnya meninjau peringkat atau metodenya.
Meninjau Jenis Maintenance: Lima Langkah dan Kesalahan Umum

Jenis maintenance tidak ditetapkan sekali lalu dilupakan. Anda menyesuaikannya seiring data kerusakan masuk. Untuk meninjau rencana maintenance yang sudah ada, ikuti lima langkah berikut.
Mulai dengan inventarisasi mesin, lalu terus sesuaikan metode dan interval berdasarkan hasil.
Anda tidak harus meninjau semua mesin sekaligus. Memulai dari mesin Peringkat A adalah cara yang praktis.
Pada langkah 5, data yang paling berguna adalah catatan kondisi tiap komponen yang Anda ganti. Jika komponen yang diganti dengan TBM masih punya banyak sisa umur, interval bisa diperpanjang. Jika sudah rusak saat diganti, perpendek interval atau pertimbangkan beralih ke CBM.
Tiga kesalahan berikut berulang kali muncul dalam peninjauan semacam ini:
- Berusaha mengalihkan semuanya ke CBM: sensor dipasang pada mesin berdampak kecil dan pada mode kerusakan yang tidak memberi peringatan, sehingga beban pemantauan terus bertambah
- Mempertahankan interval TBM tanpa dasar: rekomendasi pabrikan atau pengaturan pendahulu dipakai apa adanya, sehingga over-maintenance dan masalah yang terlewat tidak terkoreksi
- Tidak ada persiapan untuk mesin BM: tanpa suku cadang atau prosedur, kerusakan kecil berubah menjadi henti panjang
Kesalahan pertama makin sering terjadi seiring menyebarnya IoT. Kekurangan tenaga kerja dan penuaan mesin mendorong banyak perusahaan ke condition monitoring. Ingat tujuannya: mengurangi gabungan kerugian akibat kerusakan dan biaya maintenance, bukan memantau demi memantau. Henti tak terencana juga muncul sebagai kerusakan mesin (breakdown) dalam OEE.
Panduan RCM NASA menyebut pendekatan yang memadukan metode berdasarkan cara mesin rusak dan akibatnya sebagai reliability-centered maintenance. Panduan itu menyatakan bahwa program RCM yang seimbang sering memangkas anggaran maintenance tahunan sebesar 30–50%. Hasilnya berbeda menurut fasilitas dan mesin, tetapi angka ini menunjukkan bahwa memilih ulang jenis maintenance sudah merupakan cara menurunkan biaya.
Istilah Maintenance Jepang: Rujukan Cepat
| Istilah Jepang (romaji) | Padanan Inggris / singkatan | Catatan |
|---|---|---|
| yobo hozen | Preventive maintenance (PM) | Mencakup TBM dan CBM |
| jikan keikaku hozen / jikan kijun hozen | Time-based maintenance (TBM); "scheduled maintenance" dalam IEC 60050-192 | Di lapangan disebut TBM |
| teiki hozen | Periodic (calendar-based) maintenance | Jenis TBM |
| keiji hozen | Age-based (operating-hour-based) maintenance | Jenis TBM |
| jotai kijun hozen / jotai kanshi hozen | Condition-based maintenance (CBM) | Pemeriksaan indra operator juga dihitung |
| yochi hozen | Predictive maintenance | Sering dipakai longgar untuk CBM |
| jigo hozen | Breakdown / corrective maintenance (BM) | Bisa jadi pilihan yang disengaja |
| kairyo hozen | Improvement maintenance | Di TPM sering disingkat CM; bukan "corrective maintenance" |
| hozen yobo | Maintenance prevention (MP) | Membawa pelajaran ke desain mesin berikutnya |
| nichijo tenken | Pemeriksaan harian (daily inspection) | Sering dilakukan operator |
| gokan tenken | Pemeriksaan indra (sensory inspection: lihat, dengar, raba, cium) | Bagian dari CBM sederhana |
Checklist: Sebelum Mengubah Metode atau Interval Maintenance
- Apakah interval ditetapkan oleh undang-undang atau peraturan (di Jepang atau di Indonesia, misalnya aturan K3 untuk pesawat angkat/angkut dan bejana tekanan)? Jika ya, pertahankan dan tambahkan CBM hanya di atasnya.
- Apakah Anda tahu mengapa interval saat ini dipilih (rekomendasi pabrikan, riwayat kerusakan, insiden masa lalu)?
- Apa yang terjadi jika komponen ini rusak: produksi berhenti, risiko keselamatan atau lingkungan, cacat lolos ke pelanggan?
- Apakah mode kerusakan memberi peringatan yang bisa diukur (getaran, suhu, kondisi oli, arus)?
- Apakah interval P-F cukup panjang untuk memeriksa pada kurang dari separuhnya, memesan suku cadang, dan menjadwalkan perbaikan?
- Apakah komponen menurun sebanding dengan jam atau siklus, sehingga umurnya kurang lebih bisa diperkirakan?
- Apakah biaya pemantauan lebih kecil daripada kerugian dan biaya penggantian yang dicegahnya?
- Untuk item run-to-failure: apakah suku cadang, prosedur perbaikan, dan perkiraan waktu perbaikan sudah siap?
- Apakah Anda akan mencatat kondisi komponen yang diganti agar peninjauan berikutnya punya data?
Pertanyaan untuk Pihak Jepang
Gunakan pertanyaan ini saat rencana maintenance berasal dari perusahaan induk atau pembuat mesin di Jepang, atau saat Anda ingin mengubahnya:
- Item mana dalam rencana ini yang TBM, mana yang CBM, dan mana yang BM secara desain?
- Untuk setiap interval TBM, apa dasarnya: rekomendasi pabrikan, data kerusakan, atau peraturan?
- Inspeksi mana yang diwajibkan hukum di Jepang, dan apakah syarat yang sama berlaku di pabrik kami, atau hanya peraturan setempat (Indonesia)?
- Saat Anda berkata "yochi hozen", apakah maksudnya prakiraan berbasis tren atau pengecekan kondisi secara umum?
- Untuk item CBM, apa titik ukur, metode, dan ambang batas yang memicu pekerjaan?
- Mesin mana yang berperingkat A di pabrik induk (mother plant), dan kriteria apa yang menempatkannya di sana?
- Jika kami memperpanjang interval berdasarkan kondisi komponen yang diganti, siapa yang menyetujui perubahan itu, dan apakah garansi mesin terpengaruh?
Batasan Panduan Ini
- Persentase pola kerusakan berasal dari studi pesawat dan kapal perang. Angka itu menunjukkan kecenderungan, bukan nilai yang langsung berlaku untuk mesin pabrik.
- Penghematan anggaran 30–50% adalah pernyataan NASA tentang program RCM di fasilitasnya. Hasil Anda bergantung pada pabrik dan titik awalnya.
- Contoh hukum Jepang (crane, forklift, gas bertekanan tinggi) berlaku di Jepang. Di Indonesia, ikuti peraturan setempat (antara lain UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan peraturan turunannya), dan konsultasikan dengan penanggung jawab K3 atau compliance di pabrik Anda sebelum mengubah interval yang berkaitan dengan peraturan. Artikel ini tidak mengklaim padanan langsung antara aturan Jepang dan Indonesia; untuk rujukan SNI, periksa ke BSN.
- Peringkat kekritisan, kriteria, dan istilah maintenance berbeda antar perusahaan dan industri. Perlakukan contoh peringkat di sini sebagai titik awal, bukan standar.
- Artikel ini menjelaskan cara memilih metode maintenance. Ini bukan instruksi kerja; ikuti aturan lockout dan keselamatan di pabrik Anda untuk setiap pekerjaan maintenance yang sebenarnya.
Ringkasan
- Maintenance terbagi menjadi preventive dan corrective (BM). Preventive maintenance mencakup TBM (time-based) dan CBM (condition-based).
- TBM mudah direncanakan tetapi cenderung over-maintenance. CBM lebih hemat tetapi butuh cara mengukur kondisi dan kriteria keputusan yang jelas.
- Sebagian besar kerusakan tidak terkait umur, sehingga penggantian berinterval tetap saja tidak bisa mencegahnya.
- Pilih dengan urutan ini: persyaratan peraturan, dampak kerusakan, tanda peringatan yang bisa diukur, umur yang bisa diprediksi.
- Tetapkan default menurut peringkat kekritisan, tentukan metode per komponen pada mesin kritis, dan terus tinjau dengan data nyata.
Memilih campuran yang tepat dimulai dari mengenal mesin Anda dan cara mesin itu rusak.
FAQ
Apa perbedaan TBM dan CBM?
TBM (time-based maintenance) menservis atau mengganti komponen pada interval kalender atau jam operasi yang tetap. CBM (condition-based maintenance) bertindak hanya ketika pengukuran atau inspeksi menunjukkan tanda degradasi. Keduanya preventive maintenance; bedanya ada pada pemicu pekerjaan.
Apakah CBM sama dengan predictive maintenance?
Tidak persis. CBM mencakup semua maintenance berbasis kondisi terukur, termasuk pemeriksaan operator. Predictive maintenance biasanya berarti memakai data pemantauan untuk memperkirakan kapan kerusakan terjadi, jadi paling mudah dipahami sebagai bentuk lanjut CBM. Pabrik Jepang sering memakai yochi hozen secara longgar untuk keduanya.
Kapan run-to-failure maintenance dapat diterima?
Ketika kerusakan hanya sedikit berdampak pada produksi, keselamatan, dan kualitas, dan pekerjaan pencegahan lebih mahal daripada perbaikannya. Panduan RCM NASA mencantumkan item seperti motor non-kritis di bawah 7,5 hp, kipas pembuangan toilet, dan pemanas air kecil. Siapkan suku cadang dan prosedur perbaikan, dan jangan pernah menerapkannya pada kerusakan yang dapat mencederai orang atau lingkungan.
Seberapa sering inspeksi dilakukan pada CBM?
Patokan umum adalah memeriksa dengan interval kurang dari separuh interval P-F, yaitu waktu antara tanda pertama yang terdeteksi dan kegagalan fungsi. Dengan begitu ada lebih dari satu kesempatan menangkap masalahnya. Jika interval P-F sangat pendek, gunakan pemantauan kontinu atau metode lain.
Apakah CBM membutuhkan sensor?
Tidak. JIS Z 8115 mencatat bahwa kondisi dapat dinilai lewat pengamatan operator menurut jadwal selain condition monitoring. Pemeriksaan harian terhadap bunyi atau panas tidak normal, dengan aturan jelas "panggil maintenance bila...", termasuk CBM. Sensor sepadan pada mesin kritis yang deteksi lebih awalnya sebanding dengan biayanya.
Sumber
- Istilah dan definisi maintenance: JIS Z 8115:2019, Glossary of terms used in dependability (bahasa Jepang); IEC Electropedia, 192-06-12 scheduled maintenance
- Konsep condition-based maintenance: Institute of Electrical Engineers of Japan, Power and Energy Society, "Glossary No. 147: Condition-Based Maintenance" (bahasa Jepang)
- Studi pola kerusakan, contoh run-to-failure, efek overhaul, penghematan RCM: NASA, "Reliability-Centered Maintenance Guide for Facilities and Collateral Equipment" (September 2008)
- P-F curve, metode deteksi, sebaran kekritisan: ISA InTech, "Improving maintenance by adopting a P-F curve methodology" (2019)
- Interval inspeksi dan interval P-F: Power-MI, "The P-F Curve: A Cornerstone in Condition-Based Maintenance"
- Self-inspection crane: JISHA Safety and Health Information Center, Ordinance on Safety of Cranes, Pasal 34 dan 35 (bahasa Jepang)
- Specified dan periodic self-inspection forklift: e-Gov, Ordinance on Industrial Safety and Health, Pasal 151-21, 151-22, dan 151-24 (bahasa Jepang)
- Periode operasi kontinu lokasi super-certified: High Pressure Gas Safety Institute of Japan (KHK), "Super Certification and Voluntary Safety Certification" (bahasa Jepang)
- Peraturan Indonesia (rujukan awal, periksa teks resmi terbaru): Permenaker No. 8 Tahun 2020 tentang K3 Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut; Permenaker No. 37 Tahun 2016 tentang K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun; UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Artikel asli dalam bahasa JepangPanduan ini disusun dari artikel MONOSCOPE yang ditulis untuk pembaca di Jepang: 設備保全のTBMとCBMの違い|事後保全を含めた選び方と使い分け


