Shock Relay adalah: Beda dengan Overload Relay & Setting

Bayangkan Anda sedang menangani conveyor atau unit transfer berpenggerak rantai buatan Jepang. Di panel kontrol, di samping kontaktor magnetik dan thermal overload relay (TOR) milik motor, ada unit kecil di DIN rail dengan tiga dial berlabel CURRENT, START TIME, dan SHOCK TIME. Di gambar listrik, unit itu disebut shokku rire ("shock relay"). Lini terus berhenti, lampu indikator beban lebih menyala, dan naluri pertama di lapangan adalah memutar dial CURRENT ke atas.
Shock relay adalah relay pemantau arus yang terutama dirancang untuk melindungi mesin yang digerakkan. Relay ini memantau arus motor. Jika arus bertahan di atas nilai setelan lebih lama dari waktu setelan, kontak output berpindah dan menghentikan motor lewat rangkaian kontrol. Tugasnya menangkap benda yang tersangkut (jam) sebelum rantai, reducer, dan komponen penggerak lain rusak. Thermal overload relay, sebaliknya, melindungi belitan motor dari panas berlebih. Keduanya punya tugas berbeda, dan yang satu tidak menggantikan yang lain.
Panduan ini menjelaskan apa itu shock relay, nama lain untuk fungsi yang sama, bedanya dengan thermal overload relay, arti tiga setelannya, dan apa yang perlu dicek saat relay trip. Di akhir ada checklist dan daftar pertanyaan untuk pemasok peralatan Jepang.
Daftar isi
Apa Itu Shock Relay?
Gambar 1: Mendeteksi Conveyor Tersangkut dari Arus Motor
Relay mengubah masalah mekanis menjadi sinyal listrik, lalu memerintahkan kontaktor menghentikan motor.
Diagram konseptual untuk motor direct-on-line (DOL). Terminal dan rangkaian stop yang sebenarnya mengikuti model relay dan desain mesin. Di ponsel, geser gambar ke samping.
Saat sesuatu tersangkut di conveyor, motor tetap berusaha berputar dan bekerja lebih keras melawan hambatan. Arusnya naik. Shock relay menangkap kenaikan itu dan memberi peringatan dini adanya beban lebih pada rantai, reducer, atau komponen penggerak lain.
Shock relay tipe pemantau arus tidak mengukur torsi poros secara langsung. Relay ini memperkirakan beban dari perubahan arus motor. Untuk menyetelnya Anda perlu dua hal: arus motor pada operasi normal, dan batas beban mesin yang ingin dilindungi.
Prinsip yang sama bisa dipakai pada crusher dan mixer, tempat benda asing bisa tiba-tiba menaikkan beban. Apa yang dianggap "abnormal" bergantung pada apa yang masih bisa ditahan mesin, bukan hanya pada kapasitas motor. Pola perubahan arus juga bergantung pada aplikasi dan pengaturan kecepatan. Karena itu, sebelum menyentuh setelan apa pun, pastikan jenis motor dan metode penggerak (direct-on-line atau inverter), lalu dokumentasikan kondisi beban mesin target.
Memutus daya tidak langsung menghentikan mesin; mesin bisa terus bergerak karena inersia (coasting). Tsubakimoto Chain (Tsubaki), pembuat lini produk Shock Relay dari Jepang, memperingatkan bahwa relay-nya bisa gagal melindungi peralatan dengan inersia besar atau rasio reduksi besar, dan meminta pengguna melakukan pengujian sebelum menerapkannya.
Pada pengangkut orang dan peralatan angkat, tindakan pencegahan cedera dan beban jatuh harus dibangun di mesinnya sendiri. Jangan mengandalkan shock relay untuk keselamatan orang. Perlakukan perlindungan mesin dan fungsi keselamatan sebagai dua hal desain yang terpisah; keselamatan orang tetap tunduk pada desain keselamatan mesin dan ketentuan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di pabrik, misalnya UU No. 1 Tahun 1970.
Nama Lain untuk Fungsi yang Sama
"Shock Relay" (shokku rire) adalah nama produk Tsubaki, dengan simbol merek dagang terdaftar di situs Jepang Tsubaki. Pabrikan lain menjual fungsi serupa dengan nama berbeda, jadi saat mencari pengganti lokal atau perangkat sebanding, carilah berdasarkan fungsinya.
Tabel 1: Nama yang Mungkin Anda Temui untuk Jenis Proteksi yang Serupa
Istilah-istilah ini saling tumpang tindih tetapi tidak sepenuhnya sama. Cek apa yang sebenarnya dideteksi oleh produk tertentu.
| Istilah | Biasanya berarti | Catatan |
|---|---|---|
| Shock relay (Tsubaki) | Relay pemantau arus yang trip jika arus bertahan di atas setelan selama waktu tertentu, dengan penundaan saat start | Tsubaki juga menjualnya di luar Jepang dengan nama ini, terdaftar sebagai "electronic shock relays" untuk proteksi beban lebih |
| Current monitoring relay / current sensing relay | Relay yang membandingkan arus terukur dengan ambang batas dan mengganti kontak output kontrol | Tipe overcurrent bisa mendeteksi conveyor tersangkut; tipe undercurrent bisa mendeteksi belt putus atau beban hilang |
| Load monitor relay | Sebutan umum di lapangan untuk kegunaan proteksi mekanis yang sama | Sebagian produk memantau daya motor, bukan arus |
| Electronic overload relay (dengan jam protection) | Overload relay motor yang mengukur arus secara elektronik; sebagian model menambah deteksi macet atau stall | Deteksi jam adalah opsi pada sebagian model, bukan standar semua model |
| EOCR (electronic over-current relay) | Lini produk yang dijumpai di pasar Asia, dijual dengan merek Schneider Electric | Fungsi yang tercantum: overcurrent, phase loss, dan locked rotor, dengan penundaan start dan penundaan trip |
| Mechanical overload protection (torque limiter) | Perangkat mekanis di jalur penggerak yang slip atau terlepas pada torsi tertentu | Tsubaki mengelompokkan torque limiter sebagai proteksi beban lebih mekanis, terpisah dari relay listriknya |
Nama dan fungsi produk diambil dari halaman pabrikan dan distributor yang tercantum di bagian Sumber. Pastikan metode deteksi dan setelannya di datasheet model yang sebenarnya.
Tsubaki juga membuat perangkat terkait bernama Shock Monitor. Perangkat ini memantau daya masukan motor, bukan arus, dan Tsubaki menjelaskannya sebagai perangkat pemantau daya yang bisa menangkap perubahan beban yang lebih kecil. Jika gambar Jepang menampilkan shokku monita, itu bukan perangkat yang sama dengan shock relay.
Shock Relay vs Thermal Overload Relay (TOR)
Gambar 2: Arus Lebih yang Sama, Objek yang Dilindungi Berbeda
Beban lebih mesin, panas motor, dan hubung singkat masing-masing punya perangkat proteksinya sendiri.
| Aspek | Shock relay | Thermal overload relay | Breaker / fuse |
|---|---|---|---|
| Tujuan utama | Membatasi kerusakan mesin akibat jam dan gangguan serupa | Mencegah motor terbakar akibat beban lebih | Melindungi rangkaian dari hubung singkat dan gangguan serupa |
| Deteksi dan aksi | Menilai besar arus dan berapa lama arus itu bertahan | Arus memanaskan strip bimetal sehingga melengkung | Mendeteksi dan memutus arus lebih / elemen fuse melebur |
| Waktu kerja | Penundaan start dan penundaan beban lebih yang bisa diatur | Inverse-time: makin besar arus, makin cepat trip | Dipilih menurut arus hubung singkat dan koordinasi proteksi |
| Cara menghentikan motor | Kontak output ke rangkaian stop | Kontak bantu ke koil kontaktor | Membuka rangkaian utama itu sendiri |
Kolom thermal menggambarkan tipe bimetal (termal) yang umum. Fitur seperti proteksi phase loss berbeda di tiap model. Di ponsel, geser tabel ke samping.
Shock relay cocok untuk mesin yang bebannya bisa melonjak tiba-tiba: relay menghentikannya setelah jeda yang Anda setel. Thermal overload relay (samaru rire pada gambar Jepang) melindungi belitan motor dari panas akibat arus lebih yang berlangsung lama.
Pada thermal overload relay yang umum, arus motor mengalir lewat heater yang memanaskan strip bimetal. Strip melengkung saat panas dan menggerakkan kontak. Relay ini memodelkan pemanasan motor secara tidak langsung; ia tidak mengukur suhu belitan. Waktu trip-nya bergantung pada besar arus lebih dan seberapa panas relay sebelumnya, sehingga arus yang sama membuat relay yang sudah panas trip lebih cepat daripada yang dingin. Menurut IEC 60947-4-1, kelas trip overload relay (Class 10, 20, 30) menyatakan waktu trip maksimum dalam detik pada 7,2 kali setelan arus.
Pada shock relay, Anda menyetel sendiri berapa lama relay menunggu perubahan beban singkat yang normal, sesuai mesinnya. Jika mesin harus dihentikan sebelum rusak, periksa secara terpisah apakah Anda sanggup menunggu thermal relay trip.
Itu juga sebabnya memasang shock relay bukan alasan untuk melepas proteksi termal motor. Pemutusan hubung singkat adalah tugas ketiga yang terpisah. Gabungkan perangkat yang memberi sinyal stop lewat kontak dengan fuse dan breaker yang melindungi rangkaian, supaya tidak ada jenis gangguan yang terlewat. Standar IEC 60947-4-1 juga diacu oleh produk yang dijual di Indonesia; untuk model tertentu, tanyakan ke pemasok apakah ada padanan SNI.
Cara Kerja Shock Relay
Gambar 3: CT Mengambil Arus Tanpa Memotong Kabel
Kabel daya motor dilewatkan melalui inti magnetik; belitan pada inti menghasilkan sinyal yang sebanding dengan arus.
Prinsip satu CT. Pada seri SB Tsubaki, dua dari tiga kabel fase motor masing-masing dilewatkan melalui CT sendiri, dengan arah yang sama. Gambar ini tidak menunjukkan semua fase melewati satu lubang.
CT (current transformer, trafo arus; henryuki dalam bahasa Jepang) adalah sensor untuk mengukur arus. Dengan melewatkan kabel daya motor melalui CT, relay mendapat sinyal yang bisa dievaluasi tanpa memotong rangkaian utama.
Ketika beban mesin naik dan arus melewati setelan arus, relay mulai menghitung shock time. Jika kelebihan itu bertahan selama waktu setelan, kontak output berganti keadaan dan menyampaikan gangguan ke rangkaian stop atau alarm eksternal.
Kontak output relay dan kontak utama kontaktor punya tugas berbeda. Kontak output hanya memberi sinyal. Pada starter direct-on-line, susunan yang umum adalah menyambungkan output ke rangkaian kontrol kontaktor magnetik, lalu kontak utama kontaktor terbuka dan memutus daya motor. Perlakukan output sebagai kontak kering (dry contact) yang membuka atau menutup rangkaian, bukan sebagai sumber daya, dan sesuaikan dengan tegangan dan arus rangkaian yang disambungnya.
Sebagian mesin juga memasukkan sinyal gangguan ke PLC (programmable logic controller). Cek dulu beban minimum yang diizinkan pada kontak. Untuk seri SB, manualnya meminta sinyal dilewatkan lewat relay untuk arus kecil (relay perantara), bukan menyambung kontak output langsung ke input PLC, karena ada risiko kontak gagal pada arus sangat rendah. Dari sisi PLC, gangguan itu adalah digital input. Saat membaca gambar rangkaian, ikuti dua jalur secara terpisah: jalur yang menampilkan gangguan di HMI, dan jalur yang benar-benar menghentikan mesin.
Saat motor start, motor menarik arus inrush yang besar, dan itu normal. Jika relay menilai kondisi start sama seperti saat berjalan, relay akan trip di setiap start. Untuk itulah ada start time: relay menunggu transien start mereda sebelum mulai memantau beban lebih.
Pemasangan CT juga penting. Jumlah lilitan kabel yang melewati CT dan arahnya harus sesuai petunjuk model. Arus motor yang sama menghasilkan sinyal berbeda tergantung jumlah lilitan, jadi dokumentasikan setelan relay dan cara pemasangan CT sebagai satu paket.
Tiga Setelan: Arus, Start Time, dan Shock Time

Menyetel shock relay dimulai dengan mencari tahu bagaimana mesin yang sehat menarik arus. Catat saat start dan saat berjalan stabil secara terpisah, termasuk rentang beban dan material yang biasa ditangani mesin. Baru setelah itu Anda bisa menentukan di mana batas antara normal dan abnormal.
Pada saat yang sama, cari tahu seberapa besar gaya yang sanggup ditahan mesin dan seberapa cepat mesin harus berhenti. Setelan yang meloloskan operasi normal tetapi membiarkan mesin rusak saat gangguan bukanlah proteksi. Nilai akhirnya harus memenuhi kedua sisi itu.
Tuliskan kecepatan operasi, jumlah produk di conveyor, dan metode start di samping setiap pembacaan arus. Nilai arus saja tidak akan memberi tahu Anda nanti apakah bebannya naik atau kondisi operasinya yang berubah.
Gambar 4: Memisahkan Inrush, Puncak Singkat, dan Beban Lebih yang Berlanjut
Setelah start time berakhir, relay membandingkan berapa lama kelebihan arus berlangsung dengan shock time.
Bentuk gelombang konseptual untuk menjelaskan logikanya, bukan data hasil ukur. Pada contoh ini kontaktor terbuka setelah output dan arus turun ke nol. Mesin masih bisa bergerak karena inersia setelah arus hilang.
Setelan Arus (Current Setting)
Setelan arus adalah garis batas antara normal dan beban lebih. Jangan menentukannya hanya dari arus tanpa beban. Ukur rentang arusnya, termasuk kondisi terberat yang dialami mesin dalam operasi normal.
Pada conveyor, misalnya, belt kosong dan belt bermuatan memerlukan gaya penggerak yang berbeda. Catat bukan hanya beban yang biasa, tetapi juga beban maksimum yang Anda terima sebagai normal.
Sasarannya adalah nilai yang meloloskan arus normal tertinggi tetapi sudah trip sebelum batas beban mesin terlampaui. Catatan yang menghubungkan beban dengan arus adalah dasar yang lebih baik daripada kelipatan tetap dari arus nominal motor.
Jika disetel terlalu rendah, relay trip pada operasi normal; jika terlalu tinggi, relay melewatkan gangguan yang ingin Anda tangkap. Jika selisih antara arus normal dan arus gangguan kecil, menyesuaikan ambang saja mungkin tidak cukup untuk memisahkan keduanya dengan andal.
Dalam kasus itu, tinjau metode proteksi bersama pembuat peralatan, termasuk cara mendeteksi gangguan di sisi mesin. Pemantauan arus dan pemantauan daya adalah metode yang berbeda, dan karena itulah Tsubaki mencantumkan Shock Monitor sebagai perangkat pemantau daya.
Start Time
Start time adalah penundaan saat start yang mencegah arus inrush menyebabkan trip palsu. Ukur berapa lama arus mereda ke level normal setelah start, lalu setel penundaan yang melewati transien itu.
Conveyor kosong mungkin cepat mencapai kecepatan, sedangkan start dengan produk di atas belt bisa membuat akselerasi lebih lama. Uji pada kondisi start yang benar-benar dipakai mesin, dan pastikan relay tidak trip di setiap start normal.
Makin panjang start time, makin lama pula gangguan yang terjadi saat start baru terdeteksi. Menurut manual seri SB, jika beban lebih terjadi saat start, relay baru trip setelah start time ditambah shock time terlewati.
Dengan inverter (VFD), akselerasi, deselerasi, dan frekuensi output mengubah perilaku arus. Rentang frekuensi yang didukung berbeda di tiap model, jadi cocokkan model relay dan lokasi pemasangan CT dengan manual model tersebut.
Shock Time
Shock time adalah berapa lama arus boleh bertahan di atas setelan sebelum relay menyebutnya gangguan. Setelan ini meloloskan puncak singkat yang juga terjadi pada operasi normal, misalnya saat produk berpindah dari satu conveyor ke conveyor lain.
Jika terlalu pendek, beban sesaat yang normal pun menghentikan lini. Jika terlalu panjang, kerusakan terus berlanjut selama mesin tersangkut. Ukur seberapa tinggi puncak arus dan berapa lama puncak itu berlangsung, lalu bandingkan dengan berapa lama mesin sanggup menahan beban lebih.
Sebagai satu contoh, seri SB menyediakan rentang shock time 0,2–5 detik. Itu adalah rentang yang bisa disetel pada produknya, bukan waktu berhenti yang direkomendasikan untuk mesin mana pun, dan bukan nilai yang berlaku untuk semua model.
Saat memperkirakan di mana mesin akan benar-benar berhenti, sertakan waktu kerja kontaktor setelah output dan gerakan mesin karena inersia. Hanya sebagai ilustrasi, anggap 0,4 detik dari gangguan sampai output relay, dan 0,6 detik dari output sampai berhenti total.
Perhitungan ini menunjukkan bahwa shock time saja tidak menentukan di mana mesin berhenti. Pada mesin sebenarnya, uji penghentiannya, ukur waktu dari deteksi sampai diam dan jarak yang ditempuh dalam waktu itu, lalu nilai dari angka-angka tersebut.
Gambar 5: Catatan yang Dicek Sebelum Mengubah Salah Satu dari Tiga Setelan
Penyesuaian yang mengurangi trip palsu juga merupakan penyesuaian yang menunda proteksi.
| Setelan | Dasarnya | Jika terlalu rendah / pendek | Jika terlalu tinggi / panjang |
|---|---|---|---|
| Setelan arus | Beban normal maksimum dan batas beban mesin | Trip pada operasi normal | Beban lebih terlewat |
| Start time | Waktu arus mereda pada kondisi start yang nyata | Trip tepat setelah start | Lambat mendeteksi gangguan saat start |
| Shock time | Durasi puncak normal dan waktu yang sanggup ditahan mesin saat gangguan | Trip pada beban sesaat | Tidak bisa menghentikan mesin sebelum rusak |
Setelah mengubah nilai apa pun, uji bahwa operasi normal berjalan tanpa trip dan bahwa gangguan yang diharapkan terdeteksi, dengan cara yang aman.
Manual pabrikan memberi urutan penyetelannya sendiri. Manual seri SB, misalnya, meminta start time disetel lebih dulu, lalu arus, lalu shock time, mulai dari posisi awal yang ditentukan. Ikuti manual model yang terpasang di panel Anda, bukan prosedur umum, termasuk yang ada di sini. Perhatikan bahwa skala dial bukan rentang penyetelan penuh di semua model; manual SB meminta pengecekan waktu dengan tombol TEST untuk setelan di luar skala.
Saat Trip: Apa yang Dicek
Setelah trip, catat dulu kapan mesin berhenti, dan apakah itu tepat setelah start atau saat berjalan. Jika Anda lebih dulu menaikkan setelan, Anda berisiko menganggap jam yang nyata atau naiknya hambatan mekanis sebagai trip palsu.
- Catat langkah proses tempat mesin berhenti, beban saat itu, lampu atau alarm yang muncul, dan setelan saat ini.
- Isolasi daya dan amankan bagian yang bergerak, lalu cari benda asing dan masalah pada jalur penggerak.
- Hilangkan penyebabnya, lalu bandingkan dengan catatan operasi normal untuk memutuskan apakah perubahan setelan benar-benar perlu.
- Pastikan kondisi restart, amankan area, lalu lakukan uji operasi.
Pemasangan kabel dan inspeksi harus dilakukan oleh orang yang kompeten, mengikuti manual model yang bersangkutan. Pekerjaan di dalam mesin memerlukan lebih dari sekadar mengisolasi daya: cegah juga gerakan akibat bagian yang jatuh atau energi tersimpan, sesuai prosedur lockout/tagout dan aturan K3 di pabrik Anda.
Jika output relay sudah berubah tetapi mesin tidak berhenti, telusuri rangkaian stop setelah relay. Pada mesin yang dikendalikan PLC, bandingkan status input dengan sinyal izin jalan (run permit) untuk menemukan di mana jalurnya terputus. Salah satu cara mengecek kontak adalah uji kontinuitas pada rangkaian yang tidak bertegangan; jangan mengukur resistansi pada rangkaian yang bertegangan.
Setelah pemulihan, catat setelan sebelum dan sesudah perubahan beserta hasil uji, dengan mengacu pada nomor peralatan. Masukkan pengecekan operasi dan pembaruan catatan ke dalam rencana perawatan agar Anda bisa membandingkan lagi setiap kali kondisi beban berubah.
Uji dengan fungsi test bawaan relay dan uji seluruh jalur stop mencakup hal yang berbeda. Jangan berhenti hanya setelah melihat lampu berubah; pastikan rangkaian yang menerima output berakhir pada keadaan yang dirancang.
Metode uji ditentukan per model. Pada seri SB, misalnya, tombol TEST dimaksudkan untuk dipakai saat motor berhenti. Jangan sengaja membuat mesin sebenarnya macet untuk menguji proteksi; gunakan metode yang ditetapkan pabrikan untuk mereproduksi kondisi itu dengan aman.
Checklist dan Pertanyaan untuk Pemasok Jepang
Gunakan daftar ini saat mesin Jepang bershock relay tiba, saat merencanakan penggantian, atau sebelum ada yang mengubah setelan.
Checklist di Lapangan
- Pabrikan relay dan nomor model lengkap, dari name plate dan daftar part
- Setelan arus, start time, dan shock time sebagaimana ditemukan (foto dial-nya)
- Tipe CT, fase mana yang melewatinya, jumlah lilitan, dan arahnya
- Mode output: self-holding (pada seri SB, di-reset dengan tombol RESET) atau reset otomatis
- Ke mana output disambungkan: rangkaian koil kontaktor, input PLC (lewat relay perantara?), alarm
- Tegangan suplai kontrol relay
- Metode penggerak: direct-on-line atau inverter, dan rentang frekuensi inverter yang dipakai
- Thermal overload relay dan proteksi hubung singkat masih ada dan disetel dengan benar
- Catatan arus operasi normal: saat start, kosong, beban normal maksimum
- Catatan uji stop: waktu dan jarak dari deteksi sampai diam
Pertanyaan untuk Pihak Jepang
- Gangguan mesin apa yang ingin dideteksi shock relay ini (jam, beban lebih rantai, proteksi gearbox)?
- Bagaimana nilai arus, start time, dan shock time ditentukan? Apakah ada data arus hasil ukur?
- Berapa beban atau torsi yang diizinkan pada bagian yang dilindungi, dan secepat apa mesin harus berhenti?
- Apakah output relay self-holding atau reset otomatis? Setelah reset, apakah mesin bisa restart sendiri?
- Apakah relay ini disetujui untuk penggerak inverter pada rentang frekuensi operasi kami?
- Jika kami menggantinya dengan current monitoring relay atau electronic overload relay yang tersedia di Indonesia, fungsi dan setelan apa yang wajib dimilikinya?
- Apakah mesin ini punya fungsi keselamatan orang atau pencegah jatuh yang tidak bergantung pada shock relay?
Berikut contoh surat singkat dalam bahasa Inggris yang bisa Anda sesuaikan untuk dikirim ke pemasok Jepang:
Subject: Shock relay settings for [machine name / serial no.]
We are maintaining the [conveyor] you supplied. The shock relay [maker, model] in the control panel is set to current [__ A], start time [__ s], and shock time [__ s], and it has tripped [__ times] since [date]. Please tell us how these values were determined, the measured normal current, and the load limit of the protected parts. Please also confirm whether the output is self-holding or automatic reset, and which functions a substitute relay would need if we replace it locally.
Batasan Panduan Ini
- Rentang dan perilaku spesifik yang disebut di sini berasal dari dokumen seri SB dan ED Tsubaki. Model lain dan produk pabrikan lain berbeda.
- Panduan ini menjelaskan prinsip dan hal yang perlu dicek. Ini bukan prosedur penyetelan. Setelan harus mengikuti manual model yang terpasang dan penilaian perancang mesin.
- Shock relay adalah proteksi mesin. Apakah suatu mesin aman bagi orang adalah soal terpisah, yang menjadi urusan desain keselamatan mesin dan ketentuan K3 yang berlaku.
- Contoh perhitungan memakai nilai fiktif. Waktu dan jarak berhenti yang sebenarnya harus diukur pada mesin.
- Nama-nama di Tabel 1 saling tumpang tindih. Apakah produk lokal bisa menggantikan shock relay bergantung pada metode deteksi, rentang waktu, dan outputnya, dan harus dikonfirmasi ke pemasok. Kesetaraan dengan nomor SNI untuk model tertentu juga perlu ditanyakan ke pemasok.
FAQ
Apa yang Dideteksi Shock Relay?
Shock relay tipe pemantau arus mendeteksi arus motor yang melewati setelan dan berapa lama arus itu bertahan. Relay memperkirakan beban mesin dari arus, jadi berbeda dengan sensor yang mengukur torsi poros secara langsung.
Apakah Shock Relay Bisa Menggantikan Thermal Overload Relay?
Tidak. Shock relay melindungi mesin yang digerakkan dari jam; thermal overload relay melindungi motor dari panas berlebih. Memasang shock relay bukan alasan untuk melepas proteksi termal motor, dan proteksi hubung singkat oleh fuse atau breaker adalah tugas lain lagi.
Haruskah Shock Time Disetel Sependek Mungkin?
Bukan sebagai tujuan itu sendiri, karena puncak sesaat yang normal bisa menghentikan mesin. Bandingkan durasi puncak normal dengan waktu yang sanggup ditahan mesin saat gangguan, dan sertakan keterlambatan berhenti setelah deteksi.
Dengan Reset Otomatis, Apakah Mesin Restart Sendiri?
Kontak relay kembali normal dan mesin restart adalah dua kejadian yang terpisah. Pada rangkaian yang perintah jalannya tetap aktif, reset otomatis bisa berujung pada restart, jadi cek mode reset dan kondisi izin jalan bersama-sama. Sinyal gangguan yang tertahan (latched) berperilaku berbeda dari sinyal yang hanya muncul selama tombol ditekan.
Bisakah Shock Relay Dipakai pada Motor yang Digerakkan Inverter?
Bisa, jika model dan rentang frekuensinya cocok, tetapi syaratnya berbeda antarseri Tsubaki. Seri ED mencantumkan 20–200 Hz untuk penggerak inverter. Manual seri SB memperingatkan bahwa distorsi gelombang arus di bawah inverter bisa menyebabkan malfungsi, dan menyebut relay bisa dipakai pada 30–60 Hz, tempat pengaruhnya kecil. Jangan menerapkan rentang satu model ke model lain.
Sumber
- Definisi shock relay dan shock monitor; proteksi beban lebih listrik vs mekanis: Tsubakimoto Chain, informasi produk perangkat kontrol listrik (bahasa Jepang)
- Deteksi, pengawatan, setelan, tombol test, dan perawatan: Tsubakimoto Chain, manual Shock Relay seri SB (bahasa Jepang, 21 Februari 2024); U.S. Tsubaki, manual Shock Relay TSBSB (bahasa Inggris)
- Mode reset dan peringatan penggunaan (inersia, pengangkut orang dan peralatan angkat): Tsubakimoto Chain, catatan penggunaan shock relay (bahasa Jepang)
- Contoh model yang kompatibel dengan inverter: Tsubakimoto Chain, Shock Relay seri ED (bahasa Jepang)
- Shock relay Tsubaki yang dijual di luar Jepang: Tsubaki of Canada, Electronic Shock Relays
- Konstruksi thermal overload relay, waktu trip, dan proteksi hubung singkat: OMRON, panduan teknis switchgear tegangan rendah (bahasa Jepang)
- Kelas trip menurut IEC 60947-4-1: ABB, data teknis thermal overload relay
- Current monitoring relay (kegunaan overcurrent dan undercurrent, output tidak memutus arus beban): VIOX, "Current Monitoring Relay Explained"
- Deteksi jam pada electronic overload relay: Rockwell Automation, "New Electronic Overload Relay Helps Prevent Motor Damage, Downtime" (Allen-Bradley E100)
- Lini produk EOCR (fungsi yang tercantum): Bao An, daftar produk Schneider EOCRSS
- Ruang lingkup IEC 60947-4-1 (kontaktor dan starter motor elektromekanis): IEC Webstore, IEC 60947-4-1
Artikel asli dalam bahasa JepangPanduan ini disusun dari artikel MONOSCOPE yang ditulis untuk pembaca di Jepang: ショックリレーとは?電流監視の原理とサーマルとの違い・設定方法


